Pages

Selamat Ulang Tahun

Hari Jumat, tepatnya hari ini, 28 tahun lalu, disebuah kampung di pinggiran Kota Solo, seorang istri memanggil suaminya, karena terasa perutnya yang sudah membuncit memberikan isyarat akan mengeluarkan isinya dalam waktu dekat. Dengan sigap dan cekatan sang suami memapah sang istri yang merintih memegang perutnya kepayahan ke tempat tidur.

"Sudah waktunya ya, ndhuk?" tanya sang suami seraya lekas bersiap memanggil dukun gacoan warga kampung setempat.

"Iya, sepertinya. Cepetan ya pak, aku sudah gak kuat," jawab sang istri menahan perih.

"Ayo, Ji! Temani bapak!" sang ayah memerintahkan kepada anak sulungnya untuk menemaninya, sementara sang calon ibu untuk anak ketiganya ini, ditemani kakek dan nenek serta anak kedua laki-lakinya di rumah.

Tak berselang lama, sang suami telah tiba kembali di rumah dengan diekori dukun spesialis beranak di belakangnya.

Sang dukun pun mempersiapkan diri dengan peralatan tempurnya untuk berjibaku membantu sang ibu bersalin.

"Waaah! sebentar lagi ini," komentar sang dukun setelah melihat keadaan sang ibu.

"Aduuuuh!" lenguh sang ibu menahan nyawa agak tak ikut terbawa nafas yang dihembuskan.
"Nyebut nduk, nyebut...!" nasihat sang suami menenangkan sang istri.
"Lahawla wa la quwwata ila billa...(bener gak ya ejaannya?)" sahut sang istri kemudian.
"Sekarang tarik napas pelan-pelan. Terus dorong. Yak, terus...!" instruksi sang spesialis urusan beranak-pinak ini bak bidan, bahkan dokter spesialis berpengalaman.
"Hhmmmmmhhh...!!!" sang ibu mengejan dengan segenap kemampuan yang telah mengganjil antara hidup dan mati.
Sekali, dua kali, tiga kali gagal!

Tak ada suku kata menyerah (emang gak ada, karena "menyerah" itu sebuah kata, bukan suku kata) bagi sang ibu, demi melihat jabang bayi yang didamba menampakkan batang hidungnya di muka kepala sendiri.

" Ka...me...ha...me...haaaaa!!! Heeeaaaaaaahhhh...!!!" satu hentakan pamungkas yang menyudahi drama berdarah hari itu dengan kemenangan bersejarah pada pihak keluarga sang bayi.

"Bbroocoooooooot!!!"
"Oaaaaak...! oaaaaak...! oaaaaak...! yeah...! (victory sign -red)," suara tangisan bayi menggema seantero ruang kamar yang cukup luas, hingga akhirnya menembus relung-relung kosong antara ruangan dan luar ruangan, yang menggema hingga sejauh gelombang suara terbawa udara ke angkasa, menyampaikan berita gembira ke pelosok kampung.
"Perempuan...!" seru Anto yang baru saja menjadi kakak dari si bayi.
"Wah..., ayu-ne...!" seru sang nenek tak mau kalah dari cucunya tadi.
"Mau dikasih nama siapa?" tambah sang nenek.
"Hmmm..., sepertinya Dewi bagus!" ujar sang ayah.
"Ya! Dewi! Karena hari ini bulan Safar, tambahkan jadi Dewi Safriani." usul sang kakek.
"Setujuuuuu!" seru semua yang ada menandakan sepakat.
***

Well, kisah di atas saya buat spesial untuk seorang wanita spesial, yang hari ini (12-12-08, nomor cantik neh –red) kembali dikurangi umurnya genap 1 tahun setelah diberikan total waktu hidup selama 28 tahun hingga hari ini.

Aku cuma mau kamu tau bahwa,
Kamu pilihan terbaik yang dipilihkan buat aku,
Kamu hadiahkan padaku 2 yang seperti aku,
Kamu rela menemaniku jauh dari keluargamu,
Kamu pernah egois, aku pernah egois, tapi kita bisa atasi semua itu.

Aku ingin bilang, masih kah kamu sayang aku?
Tapi aku masih, dan insyaAllah selalu...!

Until death do us part, you're non winged angel brought from eden to guide me.
I'll remember that, I promise insyaAllah.

Selamat Ulang Tahun Ummi...!

Dari kami yang mencintai mu:
Abu Fatihamas, Dimaz Alfatihah Hilmi, Prisa Hamasah Hilmi

0 komentar:

Posting Komentar